Kamis, 06 Desember 2012

memperbaiki sistem pengapian

KEGIATAN BELAJAR 1 MENGIDENTIFIKASI SISTEM PENGAPIAN DAN KOMPONENNYA A. TUJUAN KHUSUS PEMBELAJARAN Diberikan lembaran informasi ini dan bahan sumber, pada akhir kegiatan belajar peserta didik diharapkan mampu : 1. Mengidentifikasi Prinsip Kerja Sistem Pengapian 2. Mengidentifikasi Konstruksi dan Komponen Sistem Pengapaian B. MATERI PEMBELAJARAN (TEORI) PRINSIP KERJA SISTEM PENGAPIAN Cara penyalaan bahan bakar pada motor bakar dibedakan dalam 2 macam : Udara dikompresikan dengan tekanan kompresi tinggi • 20 – 40 bar ( 2 – 4 Mpa ) temperatur naik 700 – 9000C Bahan bakar disemprotkan kedalam ruang bakar • Langsung terjadi penyalaan / pembakaran Campuran udara + bahan bakar dikompresikan dengan tekanan kompresi rendah • 8 – 13 bar ( 0,8 – 13 Mpa ) temperatur naik 400 – 6000C Busi meloncatkan bunga api terjadi penyalaan / pembakaran Sistem pengapian konvensional pada motor bensin ada 2 macam : 1. Sistem pengapian baterai 2. Sistem pengapian magnet Cara Menaikkan Tegangan Tegangan baterai ( 12 V ) dinaikkan menjadi tegangan tinggi 5000  25000 Volt dengan menggunakan transformator ( Koil ). Transformator Dasar Transformasi Tegangan Transformasi tegangan berdasarkan Prinsip induksi magnetis a) Induksi magnetis Jika magnet digerak-gerakkan dekat kumparan, maka : • Terjadi perubahan medan magnet • Timbul tegangan listrik Tegangan tersebut disebut “Tegangan Induksi” b) Transformator Jika pada sambungan primer transformator dihubungkan dengan arus bolak – balik maka: • Ada perubahan arus listrik • Terjadi perubahan medan magnet • Terjadi tegangan induksii lampu menyala c) Perbandingan Tegangan Perbandingan tegangan sebanding dengan perbandingan jumlah lilitan • Jumlah lilitan sedikit tegangan induksi kecil • Jumlah lilitan banyak tegangan induksi besar d)Transformasi dengan arus searah Bagaimana jika transformator diberi arus searah? • Transformator tidak dapat berfungsi dengan arus searah, karena :  Arus tetap  Tidak tejadi perubahan medan magnet  Tidak ada induksi Bagaimana agar terjadi perubahan medan magnet ? Dengan memberi saklar pada sambungan primer Jika saklar dibuka / ditutup ( on / off ), maka : • Arus primer terputus – putus • Ada perubahan medan magnet • Terjadi induksi KONSTRUKSI SISTEM PENGAPIAN Bagian – Bagian Sistem Pengapian Baterai Baterai Kegunaan : Sebagai penyedia atau sumber arus listrik Kunci kontak Kegunaan : Menghubungkan dan memutuskan arus listrik dari baterai ke sirkuit primer Koil Kegunaan : Mentransformasikan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi ( 5000 – 25.000 Volt ) Kontak pemutus Kegunaan : Menguhungkan dan memutuskan arus primer agar terjadi induksi tegangan tinggi pada sirkuit sekunder sistem pengapian Kondensator Kegunaan : • Mencegah loncatan bunga api diantara celah kontak pemutus pada saat kontak mulai membuka • Mempercepat pemutusan arus primer sehingga tegangan induksi yang timbul pada sirkuit sekunder tinggi Distributor Kegunaan : Membagi dan menyalurkan arus tegangan tinggi ke setiap busi sesuai dengan urutan pengapian Busi Kegunaan : Meloncatkan bunga api listrik diantara kedua elektroda busi di dalam ruang bakar, sehingga pembakaran dapat dimulai CARA KERJA DAN DATA-DATA SISTEM PENGAPIAN BATERAI Cara kerja Saat kunci kontak on, kotak pemutus menutup Arus mengalir dari + baterai - B kunci kontak - IG Kunci Kontak - kumparan primer koil - kontak pemutus – massa  Terjadi pembentukan medan magnet pada kumparan primer dan inti koil Saat kunci kontak on, kontak pemutus membuka Arus primer terputus dengan cepat maka : • Ada perubahan medan magnet ( medan magnet jatuh ) • kumparan primer menghasilkan indusksi diri dengan tegangan 300-400 volt yang kemudian diserap oleh kondensor • Terjadi arus induksi tegangan tinggi pada saat sirkuit sekunder dengan tegang 20.000 -25.000 volt yang diteruskan ke busi ( terjadi loncatan bunga api di antara elektroda busi ) Kontak Pemutus dan Sudut Dwel Kegunaan : Menghubungkan dan memutuskan arus primer agar terjadi induksi tegangan tinggi pada sirkuit sekunder Bagian-bagian 1. Kam distributor 6. Sekrup pengikat 2. Kontak tetap ( wolfram ) 7. Tumit ebonit 3. Kontak lepas ( wolfram ) 8. Kabel ( dari koil - ) 4. Pegas kontak pemutus 9. Alur penyetel 5. Lengan kontak pemutus Bentuk Kontak Pemutus Bentuk-bentuk kontak pemutus Keausan yang terjadi Kontak berlubang Kontak pejal Sudut Pengapian Sudut dwel Kesimpulan : sudut dwel adalah sudut putar kam distributor pada saat kontak pemutus menutup (B ) sampai kontak pemutus mulai membuka ( C ) pada tonjolan kam berikutnya Hubungan sudut dwel dengan celah kontak pemutus Sudut dwel besar  celah kontak pemutus kecil Sudut Dwel kecil  celah kontak pemutus besar Contoh : Menghitung sudut dwel motor 4 silinder dan 6 silinder Besar sudut Dwell dan kemampuan pengapian Kemampuan pengapian ditentukan oleh kuat arus primer. Untuk mencapai arus primer maksimum, diperlukan waktu pemutusan kontak pemutus yang cukup. Sudut dwell kecil Sudut dwel besar Kesimpulan : Besar sudut dwel merupakan kompromis antara kemampuan pengapian dan umur kontak pemutus Kondensator Percobaan sistem pengapian tanpa kondensator Pada sirkuit primer Pada saat kontak pemutus mulai membuka. Ada loncatan bunga api diantara kontak pemutus Artinya : • Arus tidak terputus dengan segera • Kontak pemutus menjadi cepat aus (terbakar) Pada sirkuit sekunder Bunga api pada busi lemah • Mengapa bunga api pada besi lemah ? Karena arus primer tidak terputus dengan segera, medan magnit pada koil tidak jatuh dengan cepat  Tegangan induksi rendah Mengapa terjadi bunga api pada kontak saat arus primer diputus ? Pada saat kontak pemutus membuka arus dalam sirkuit primer diputus maka terjadi perubahan medan magnet pada inti koil ( medan magnet jatuh ) Akibatnya terjadi induksi pada : • Kumparan primer • Kumparan sekunder Petunjuk Sifat-sifat induksi diri • Tegangannya bisa melebihi tegangan sumber arus, pada sistem pengapian tegangannya  300 - 400 Volt • Arus induksi diri adalah penyebab timbulnya bunga api pada kontak pemutus • Arah tegangan induksi diri selalu menghambat perubahan arus primer Sistem pengapian dengan kondensator Pada sistem pengapian, kondensator dihubungkan secara paralel dengan kontak pemutus. Cara kerja : Pada saat kontak pemutus mulai membuka, arus induksi diri diserap kondensator Akibatnya : a) Tidak terjadi loncatan bunga api pada kontak pemutus. b) Arus primer diputus dengan cepat ( medan magnet jatuh dengan cepat ). c) Tegangan induksi pada sirkuit sekunder tinggi, bunga api pada busi kuat. ( Tegangan induksi tergantung pada kecepatan perubahan kemagnetan ). Prinsip kerja kondensator Kondensator terdiri dari dua plat penghantar yang terpisah oleh foli isolator, waktu kedua plat bersinggungan dengan tegangan listrik, plat negatif akan terisi elektron-elektron Jika sumber tegangan dilepas, elektron-elektron masih tetap tersimpan pada plat kondensator  ada penyimpanan muatan listrik Jika kedua penghantar yang berisi muatan listrik tersebut dihubungkan, maka akan terjadi penyeimbangan arus, lampu menyala lalu padam. Kondensator pada sistem pengapian Pada sistem pengapian konvensional pada mobil umumnya menggunakan kondensator model gulung Bagian-bagian : Data : 1. Dua foli aluminium Kapasitas 0,1 – 0,3 f 2. Dua foli isolator kemapuan isulator  500 volt 3. Rumah sambungan massa 4. Kabel sambungan positif Koil dan Tahanan Ballast Kegunaan koil : Untuk mentransformasikan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi pada sistem pengapian. Koil inti batang ( standart ) Keuntungan : Konstruksi sederhana dan ringkas Kerugian : Garis gaya magnet tidak selalu mengalir dalam inti besi, garis gaya magnet pada bagian luar hilang, maka kekuatan / daya magnet berkurang Koil dengan inti tertutup Keuntungan : Garis gaya magnet selalu mengalir dalam inti besi  daya magnet kuat  hasil induksi besar Kerugian : Sering terjadi gangguan interferensi pada radio tape dan TV yang dipasang pada mobil / juga di rumah (TV) Koil dengan tahanan ballast • Rangkaian prinsip Persyaratan perlu/tidaknya koil dirangkai dengan tahanan ballast Pada sistem pengapian konvensional yang memakai kontak pemutus, arus primer tidak boleh lebih dari 4 amper, untuk mencegah : • Keausan yang cepat pada kontak pemutus • Kelebihan panas yang bisa menyebabkan koil meledak ( saat motor mati kunci kontak ON ) Dari persyaratan ini dapat dicari tahanan minimum pada sirkuit primer Jadi jika tahanan sirkiut primer koil < 3 , maka koil harus dirangkai dengan tahanan ballast Catatan : Untuk pengapian elektronis tahanan primer koil dapat kurang dari 3 ohm. Contoh : Tahanan rangkaian primer 0,9 - 1 Ohm dan dirangkai tanpa tahanan ballast. Kegunaan tahanan ballast • Pembatas arus primer ( contoh ) • Kompensasi panas Pada koil yang dialiri arus, timbul panas akibat daya listrik. Dengan menempatkan tahanan ballast diluar koil, dapat memindahkan sebagian panas diluar koil, untuk mencegah kerusakan koil Busi Bagian-bagian 1. Terminal 2. Rumah busi 3. Isolator 4. Elektrode ( paduan nikel ) 5. Perintang rambatan arus 6. Rongga pemanas 7. Elektrode massa ( paduan nikel ) 8. Cincin perapat 9. Celah elektrode 10. Baut sambungan 11. Cincin perapat 12. Penghantar Beban dan tuntutan pada busi Beban Hal – hal yang dituntut Panas • Temperatur gas didalam ruang bakar berubah, temperatur pada pembakaran 2000 - 30000C dan waktu pengisian 0 – 1200C • Elektode pusat dan isolator harus tahan terhadap temperatur tinggi  8000C • Cepat memindahkan panas sehingga temperatur tidak lebih dari 8000C Mekanis • Tekanan pembakaran 30 – 50 bar • Bahan harus kuat • Konstruksi harus rapat Kimia • Erosi bunga api • Erosi pembakaran • Kotoran • Bahan Elektroda harus tahan temperatur tinggi ( nikel, platinum ) • Bahan kaki isolator yang cepat mencapai temperatur pembersih diri ( ± 4000C ) Elektris • Tegangan pengapian mencapai 25000 Volt • Bentuk kaki isolator yang cocok sehingga jarak elektroda pusat ke masa jauh • Konstruksi perintang arus yang cocok Nilai Panas Nilai panas busi adalah suatu indeks yang menunjukkan jumlah panas yang dapat dipindahkan oleh busi Kemampuan busi menyerap dan memindahkan panas tergantung pada bentuk kaki isolator / luas permukaan isolator Nilai panas harus sesuai dengan kondisi operasi mesin Busi panas • Luas permukaan kaki isolator besar • Banyak menyerap panas • Lintasan pemindahan panas panjang, akibatnya pemindahan panas sedikit Busi dingin • Luas permukaan kaki isolator kecil • Sedikit menyerap panas • Lintasan pemindahan panas pendek, cepat menimbulkan panas Permukaan muka busi Permukaan muka busi menunjukkan kondisi operasi mesin dan busi Normal Isolator berwarna kuning atau coklat muda Puncak isolator bersih, permukaan rumah isolator kotor berwarna coklat muda atau abu – abu , • Kondisi kerja mesin baik • Pemakaian busi dengan nilai panas yang tepat Terbakar Elektrode terbakar, pada permukaan kaki isolator ada partikel-partikel kecil mengkilat yang menempel Isolator berwarna putih atau kuning Penyebab : • Nilai oktan bensin terlalu rendah • Campuran terlalu kurus Knoking ( detonasi ) • Saat pengapian terlalu awal • Tipe busi yang terlalu panas Berkerak karena oli Kaki isolator dan elektroda sangat kotor. Warna kotoran coklat Penyebab : • Cincin torak aus • Penghantar katup aus • Pengisapan oli melalui sistem ventilasi karter Berkerak karbon / jelaga Kaki isolator, elektroda-elektroda, rumah busi berkerak jelaga Penyebab : • Campuran terlalu kaya • Tipe busi yang terlalu dingin Isolator retak Penyebab : • Jatuh • Kelemahan bahan • Bunga api dapat meloncat dari isolator langsung ke massa Celah elektroda busi dan tegangan pengapian Celah elektroda busi mempengaruhi kebutuhan tegangan pengapian • Celah elektroda besar tegangan pengapian besar • Celah elektroda kecil tegangan pengapian kecil Contoh Pada tekanan campuran 1000 kpa ( 10 bar ) • Celah elektrode 0,6 mm tegangan pengapian 12,5 kv • Celah elektrode 0,8 mm tegangan pengapian 15 kv • Celah elektrode 1 mm tegangan pengapian 17,5 kv SAAT PENGAPIAN Persyaratan saat pengapian Mulai saat pengapian sampai proses pembakaran selesai diperlukan waktu tertentu. Waktu rata – rata yang diperlukan selama pembakaran  2 ms ( mili detik ) 1. Saat pengapian 2. Tekanan pembakaran maksimum 3. Akhir pembakaran a) Usaha yang efektif Untuk mendapatkan langkah usaha yang paling efektif, tekanan pembakaran maksimum harus dekat sesudah TMA b) Saat pengapian yang tepat Agar tekanan pembakaran maksimum dekat sesudah TMA saat pengapian harus ditempatkan sebelum TMA Saat pengapian dan daya motor a. Saat pengapian terlalu awal mengakibatkan detonasi / knoking, daya motor berkurang, motor menjadi panas dan menimbulkan kerusakan ( pada torak, bantalan dan busi ) b. Saat pengapian tepat Menghasilkan langkah usaha yang ekonomis, daya motor maksimum c. Saat pengapian terlalu lambat Menghasilkan langkah usaha yang kurang ekonomis / tekanan pembakaran maksimum jauh sesudah TMA, daya motor berkurang, boros bahan bakar Hubungan saat pengapian dengan putaran motor Supaya akhir pembakaran dekat sesudah TMA, saat pengapian harus  1 ms sebelum TMA. Untuk menentukan saat pengapian yang sesuai dalam derajat p.e, kita harus memperhatikan kecepatan putaran motor Contoh : Putaran rendah Putaran tinggi Sudut putar p.e selama sudut putar p.e selama 1 ms kecil 1 ms besar 1000 rpm Putaran motor 6000 rpm 60 ms Waktu untuk 1 putaran p.e 10 ms 60 pe Sudut putar selama 1 ms 360p.e Kesimpulan : Supaya akhir pembakaran tetap dekat TMA, saat pengapian harus disesuaikan pada putaran motor : Hubungan Saat Pengapian Dengan Beban Motor Pada beban rendah, pembentukan campuran setelah langkah kompresi masih kurang homogen karena: a) Pengisian silinder kurang temperatur hasil kompresi rendah b) Aliran gas dalam silinder pelan tolakan kurang Akibatnya : waktu bakar menjadi lebih lama dari pada ketika beban penuh Petunjuk : Beban rendah = Katup gas terbuka sedikit Beban penuh = Katup gas terbuka penuh Saat pengapian dan nilai oktan Jika nilai oktan bensin rendah, saat pengapian sering harus diperlambat daripada spesifikasi, untuk mencegah knoking ( detonasi ) Torak yang berlubang karena temperatur terlalu tinggi, akibat detonasi Cincin torak, pen torak, bantalan rusak akibat tekanan yang tinggi karena detonasi Advans Sentrifugal Hitunglah saat pengapian yang sesuai dalam 0p.e. untuk putaran : 1000, 2000, 4000, 6000 rpm Persyaratan saat pengapian harus tetap 0,8 ms sebelum TMA Analog : n = 2000 rpm Saat pengapian  100 pe sebelum TMA n = 4000 rpm Saat pengapian  200 pe sebelum TMA n = 6000 rpm Saat pengapian  300 pe sebelum TMA Kesimpulan Semakin cepat putaran motor, saat pengapian semakin maju ( semakin awal Fungsi Advans Sentrifugal ( Governor ) Untuk memajukan saat pengapian berdasarkan putaran motor digunakan advans sentrifugal Prinsip kerja Semakin cepat putaran motor, semakin mengembang bobot-bobot sentrifugal. Akibatnya poros governor ( kam ) diputar lebih maju dari kedudukan semula  kontak pemutus dibuka lebih awal ( saat pengapian lebih maju ) Cara kerja advans sentrifugal Putaran idle ( stasioner ) • pemberat sentrifugal belum mengembang • plat kurva belum ditekan • advans belum bekerja • salah satu pegas pengembali masih longgar Putaran rendah s / d menengah • Pemberat sentrifugal mulai mengembang • Plat kurva mulai ditekan • Advans sentrifugal mulai bekerja • Hanya satu pegas pengembali yang bekerja Pembatas maksimum Putaran tinggi • Pemberat sentrifugal mengembang sampai pembatas maksimum • Plat kurva ditekan • Advans bekerja maksimum  Kedua pegas pengembali bekerja Advans Vakum Pada beban rendah atau mencegah, kecepatan bakar rendah karena tolakan rendah, temperatur rendah, campuran kurus. Oleh karena itu waktu pembakaran menjadi lebih lama, Agar mendapatkan tekanan pembakaran maksimum tetap dekat sesudah TMA, saat pengapian harus dimajukan Untuk memajukan saat pengapian berdasarkan beban motor digunakan advans vakum Bagian – bagian 1. Plat dudukan kontak pemutus yang bergerak radial 2. Batang penarik 3. Diafragma 4. Pegas 5. Langkah maksimum 6. Sambungan slang vakum Cara Kerja Advans Vakum Advans vakum tidak bekerja ( Pada saat idle dan beban penuh )  Vakum rendah membran tidak tertarik  Plat dudukan kontak pemutus masih tetap pada kedudukan semula  Saat pengapian tetap Advans vakum bekerja ( Pada beban rendah dan menengah )  Vakum tinggi, membran tertarik  Plat dudukan kontak pemutus diputar maju berlawanan arah dengan putaran kam governor  Saat pengapian semakin di majukan Macam – Macam Kondisi Vakum Pada Sambungan Advans Vakum Idle Vakum yang benar terjadi di bawah katup gas Vakum belum mencapai daerah sambungan advans, maka advans vakum belum bekerja Beban rendah & menengah Vakum yang besar mencapai daerah sambungan advans, maka advans vakum bekerja Beban penuh Vakum pada daerah sambungan advans kecil, maka advans vakum tidak bekerja SISTIM PENGAPIAN ELEKTRONIK Kekurangan pada sistim pengapian konvensional dibandingkan pengapian elektronik : • Berkurangnya tegangan tinggi ignition coil pada saat putaran tinggi, • Memerlukan perawatan secara periodik karena platina akan menjadi habis karena terbakar oleh adanya loncatan bunga api Sistim pengapian elektronik : Pada sistim pengapian elektronik bekerja tanpa menggunakan sistim mekanis Sebagai pengganti platina digunakan satu rangkaian transistor ( Igniter ) KOMPONEN SYSTEM PENGAPIAN FULL TRANSISTOR DIDALAM DISTRIBUTOR Pada sistim pengapian full transistor didalam distributor terdapat : 1. SIGNAL ROTOR Berupa rotor yang terpasang pada poros distributor dan berputar sesuai dengan putaran poros distributor, dan memiliki tonjolan sesuai dengan jumlah silinder mesin 2. SIGNAL GENERATOR Berupa gulungan yang disebut pick-up coil, yang menghasilkan tegangan induksi karena adanya perubahan flux magnet pada saat signal rotor berputar 3. IGNITOR Rangkaian elektronik yang berfungsi untuk meutus dan menghubungkan arus lisktrik pada primary koil 4. PICK – UP COIL Generator yang berfungsi untuk menghasilkan arus maupun tegangan untuk mengaktifkan ignitor. 5. MAGNET PERMANEN Sebagai sumber induksi CARA KERJA SIGNAL GENERATOR Gambar B. Kaki rotor mendekati mendekati inti pick-up coil : kemagnetan membesar ke arah positif ( + ) Gambar C. Kaki rotor lurus dengan inti pick-up coil : kemagnetan pada inti maximum tegangan = 0 Gambar D. Kaki rotor menjauhi inti pick-up coil : kemagnetan membesar ke arah negatif ( - ) KESIMPULAN GERAKAN ROTOR IGNITER Igniter terdiri dari 3 bagian utama : • Switching circuit , medeteksi signal pengapian dari pick-up coil • Driving circuit, memperkuat signal, memutus dan menghubungkan arus primer • Over voltage circuit atau protective circuit, pengaman kelebihan tegangan PRINSIP KERJA RANGKAIAN KUNCI KONTAK ON MESIN MATI : Pada titik “P” diset pada tegangan dibawah operasi transistor dengan menggunakan R1 & R2 sehingga transistor akan tetap “ OFF “ arus dari primari koil tidak dapat mengalir MESIN HIDUP ( ½ PERIODE POSITIF ) : Jika mesin berputar, signal rotor pada distributor berputar, akibatnya pada pick-up coil dibangkitkan tegangan. Pada saat dibangkitkan tegangan positif pada pick-up koil, tegangan tersebut akan ditambahkan pada tegangan yang sudah ada pada titik “P” sehingga tegangan pada titik “Q” menjadi lebih besar dari tegangan operasi transistor. Akibatnya transistor menjadi “ON” arus dari primari koil dapat mengalir melalui colector ke emitor. MESIN HIDUP ( ½ PERIODE NEGATIF ) : Pada saat dibangkitkan tegangan negatif pada pick-up koil, tegangan tersebut akan ditambahkan pada tegangan yang sudah ada pada titik “P” sehingga tegangan pada titik “Q” turun drastis dibawah dari tegangan operasi transistor. Akibatnya transistor menjadi “OFF “ arus dari primari koil tidak dapat mengalir melalui colector ke emitor. KEGIATAN BELAJAR 2 PROSEDUR PERBAIKAN SISTEM PENGAPIAN A. TUJUAN KHUSUS PEMBELAJARAN Diberikan lembaran informasi ini dan bahan sumber, pada akhir kegiatan belajar peserta didik diharapkan mampu : Melakukan Perbaikan pada Sistem Pengapian dan Komponennya B. MATERI PEMBELAJARAN (TEORI) PEMERIKSAAN SISTEM PENGAPIAN A. PEMERIKSAAN AWAL 1. Pemeriksaan bunga api busi  Pasang timing light pada mesin  Hidupkan mesin  periksa Keadaan bunga api dengan menggunakan lampu waktu. 2. Konektor (socket) 3. Coil pengapian  putar kunci kontak pada posisi ON  lepas kabel tegangan baterai  periksa tegangan baterai dengan menggunakan volt meter, hubungkan kaki positif tester dengan terminal positif dari resistor dan kaki negative pada massa. Tegangan : ± 12 volt B. PEMERIKSAAN LANJUTAN 1. Kabel tegangan tinggi Jangan membengkokan kabel karena akan merusak penghantar. a. Periksa keadaan terminal kabel, jika kotor bersihkan, jika patah ganti. b. Periksa tahanan kabel, (- 25 k ohm/ kabel) 2. Pemeriksaan Busi Periksa kemungkinan terdapat hal-hal berikut : a. Retak atau cacat pada ulir atau isolator b. Gasket cacat atau buruk c. Elektroda aus d. Elektroda cacat atau terbakar, terdapat sisa karbon e. Periksa celah busi dengan menggunakkan alat pengukur celah busi. Celah busi : 0,8 mm 3. Coil Pengapian a. Periksa tahanan dari resistor menggunakan ohm meter tahanan • dengan kunci kontak 1,1-1,3 Ω • tanpa kunci kontak 1,3 – 1,5 Ω b. Periksa tahanan coil menggunakan ohm meter. • Tahanan coil primer : antara terminal positif dengan negative. Dengan Internal Resistor 1,5 – 1,9 Ω,tanpa Internal Resistor 1,3 - 1,6 Ω • Tahanan coil sekunder : antara terminal positif dengan terminal tegangan tinggi. Tahanan :- dengan Internal Resistor 13,7– 18,5 KΩ, tanpa Internal Resistor 10,7 – 14,5 KΩ c. Periksa tahanan isolasi antara terminal positif dan body coil menggunakan ohm meter : tahanan tak terhingga 4. Distributor  Periksa governor. Putar rotor berlawanan dengan jarum jam lalu di lepas.rotor harus kembali dengan halus ke posisi semula. Periksa celah blok karet Celah blok karet: 0,42 mm 4.1. Membongkar komponen distributor Membongkar suku cadang menurut urutan seperti pada gambar 4.2. Pemeriksaan dan perbaikan 4.2.1.Tutup distributor periksa kemungkinan terdapat keretakan, sisa -sisa karbon, terbakar atau terminal berkarat.juga periksa tempat persinggungan bagian tengah kemungkinan aus 4.2.2. Rotor periksa kemungkingan retak terdapat sisa sisa karbon, terbakar atau terminal berkarat 4.2.3. Breaker plate periksa breaker plate apakah berputar dengan halus 4.2.4. Pemberat governor dan pen periksa bagian fitting dari pemberat governor weihgtbeserta pen kemungkinan bengkok . 4.2.5. Membran vacum advancer membran harus bergerak apabila dihisap melalui lubang 4.2.6. Cam poros periksa poros (cam) kemungkinan aus, serta periksa keadaan hubungan antara kam dan poros 4.2.7. Poros governor dan rumah 1. Periksa celah aksial poros celah aksial : 0,15 - 0,50mm 2. Lepaskan roda gigi dan pen gerinda uung pen dan keluarkan pen roda gigi 3. Periksa poros gopernor kemungkinan aus atau cacat 4. Periksa bos rumah dan ring kemungkinan aus berubah bentuk atau cacat 5. masukan waser ke dalam poros goverfnor dan plate Stel celah hingga harga standart dengan memberi variasi jumlah waser 2, 4, dan 5 diatas. 6. Rakit waser dan roda gigi menurut urutan seperti pada gambar dan periksa celah aksial. 7. Pres pen menggunakan ragum 8. Rakitlah semua komponen distributor yang telah diperiksa dan diperbaiki sesuai kebalikan urutan langkah pembongkaran. C. PEMASANGAN DAN PENYETELAN DISTRIBUTOR PADA MESIN 1. Stel puli poros engkol pada waktu pengapian silinder 1 ( 8' STMA) 2. Luruskan garis tengah slot diujung atas poros pompa oli dengan poros pompa oli dengan tanda (lubang oli) dibagian atas pompa 3. Posisikan rotor distributor menghadap bagian kanan pipa sumbat no. 3 lalu masukkan rumah distributor. 4. Pada waktu rumah dimasukkan rotor harus berada dekat pertengahan pipa sumbat no. 2. 5. putar swit kotak pada posisi ON jangan memutar motor starter. 6. Putar body distributor berlawanan dengan jarum jam sampai timbul bunga api kemudian kencangkan baut klem pada posisi ini. 7. Periksa waktu pengapian pada waktu putaran idle dengan Timing Light

1 komentar:

  1. mau tanya mas, tahanan kabel busi dan kabel koil berapa ya ?

    BalasHapus